Merawat Kualitas Hafalan dengan Tasmi’

Grha Tahfizh PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta kembali menggelar tasmi’ Al-Qur’an 30 juz oleh santri atas nama Qonita Karima As-Syahidah. Santri belia yang baru menginjak usia 9 tahun ini pernah menyabet predikat Wisudawan Terbaik 30 Juz pada momen Wisuda Tahfizh Nasional (WTN) 2025. Kecintaannya pada Al-Qur’an membuat dia terbiasa merapalkan 10 hingga 15 juz dalam sehari.

Tasmi’ Al-Qur’an berlangsung 3 hari dari tanggal 1, 3 dan 4 Januari 2026, dengan jumlah hafalan 10 juz per hari. Prosesi tasmi’ disimak langsung oleh para pengajar Grha Tahfizh yang sudah bersertifikasi tahfizh BNSP RI. Prioritas penilaian tidak hanya dari sisi kelancaran, melainkan juga kefasihan dan kecepatan (tempo). Hal ini menjadi fokus untuk meminimalisir hafalan yang hanya berorientasi pada kecepatan, akan tetapi nihil dari sisi tajwid dan makharijul huruf-nya. Ini juga menjadi standar kualitas dalam pembelajaran di Grha Tahfizh yang memprioritaskan perbaikan (tahsin) sebelum dan dalam proses menghafal.

Terlepas dari tasmi’ Al-Qur’an 30 juz, sejatinya tasmi’ adalah rangkaian dan bagian dari proses pembelajaran tahfizh di Grha Tahfizh setiap mencapai juz yang ditentukan, misalnya setiap kelipatan 5 juz Al-Qur’an. Hal ini karena tasmi’ adalah bentuk upaya penjagaan yang menuntut seorang santri untuk terus melafalkan secara penuh tanpa mushaf. Tuntutan ini mendorong santri untuk menciptakan rutinitas, membangun sistem dan komitmen, sehingga hafalan yang dimiliki terus diulang secara intensif. Sistem ini tidak cukup dibangun dalam kelas-kelas yang sangat terbatas waktunya, melainkan perlu dukungan dan manajemen waktu dari pribadi dan orang tua untuk penghafal usia belia.

Qonita adalah salah satu santri yang mendapat dukungan penuh dalam bentuk sistem penjagaan dari kedua orang tua. Tidak hanya memprioritaskan kelancaran, akan tetapi bagaimana kualitas bacaan juga terjaga. Dukungan dalam bentuk target mengulang (muroja’ah) hafalan Al-Qur’an sekian juz dalam sehari merupakan habituasi yang ditanamkan sejak dini oleh orang tuanya, sehingga tasmi’ bukan sesuatu yang ditakuti sebagaimana kebanyakan santri penghafal Al-Qur’an. Tasmi’ hanyalah bentuk muroja’ah versi penuh dari ayat-ayat yang sudah rutin dirapalkan dengan tujuan untuk mendapat validasi mengenai kualitas hafalan yang dimiliki. Dimana penilaian kualitas hafalan ini hanya bisa diberikan oleh penghafal Al-Qur’an yang telah mendapat legitimasi, baik dalam bentuk sanad, ijazah maupun asesmen dengan pihak berwenang. Salah satunya LSP Daarul Qur’an yang berafiliasi dengan BNSP RI dalam penyelenggaraan Sertifikasi Kompetensi Bidang Tahsin dan Tahfizh.

Pada akhirnya, tasmi’ adalah rangkaian proses menghafal Al-Qur’an yang tidak dapat dilewati dan dihindari. Tasmi’ adalah sampling dari uji publik sekaligus pembuktian dari predikat Penghafal Al-Qur’an yang akan disandang. Tasmi’ adalah hasil dari proses dan sistem yang dibangun dalam upaya merawat kualitas hafalan Al-Qur’an.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Need Help? Chat with us
Scroll to Top