Pertemuan perdana ToT Tuli Mengaji pada 13 Desember 2025 lalu mengawali rangkaian program berkelanjutan di Semanu Gunung Kidul. Pertemuan perdana ini tidak hanya momentum memperkenalkan Al-Qur’an Isyarat kepada khalayak, melainkan juga membuka pintu kesadaran akan urgensi hadirnya Al-Qur’an Isyarat bagi kaum disabilitas tuli, dan menumbuhkan semangat serta kemelekatan dalam diri muslim dengan Al-Qur’an. Pertemuan perdana secara tidak langsung membangun komitmen tentang siapa dan sejauh mana yang bersungguh-sungguh dalam mempelajari Al-Qur’an Isyarat. Terutama pada mereka, para guru dan orang tua, yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak disabilitas tuli. Momentum ini adalah jawaban dari kegelisahan batin yang telah gesang sekian lama karena kehausan dan rindu seorang muslim untuk berinteraksi dengan kitab suci-Nya.
Sebagaimana proses awal dalam belajar Al-Qur’an, demikian pula dengan Al-Qur’an Isyarat. Pembelajaran dimulai dari isyarat dasar Al-Qur’an, yakni huruf hijaiyah, harakat, hingga kalimat pendek bersambung, yang terangkum dalam metode Kitabah. Kemudian, berlanjut pada penjajakan kompetensi dengan level yang lebih tinggi pada pertemuan kedua, tepatnya 27 Desember 2025. Kali ini, mereka mulai menyelami isyarat dari hukum tajwid sebagai bagian dari metode tilawah. Bagaimana mengisyaratkan kalimat-kalimat yang relatif kompleks unsur-unsurnya. Di bawah binaan Pak Andi, selaku trainer utama dan dua pendamping dari Komunitas Muslim Tuli Yogyakarta (MULIA), seluruh peserta yang mencakup teman tuli dan dengar itu sangat antusias dan fokus penuh menyimak pemaparan materi. Perlahan, momentum ToT yang terus diperluas ini, juga ajang menumbuhkan rasa percaya diri, kesempatan berbagi, dan rasa berdaya dalam diri kaum disabilitas tuli. Kedepannya, mereka lah yang diharapkan berdiri di depan dalam agenda-agenda pelatihan, menjadi instruktur dan trainer, serta berkesempatan untuk mendakwahkan Al-Qur’an Isyarat.
Dari total 40-an peserta dengan latar belakang guru, orang tua, dan santri, ada sekitar 14 peserta dari kalangan tuli. Mereka hadir sebagai anggota Komunitas Gerkatin Gunung Kidul. Pada kesempatan ini, mereka pun mulai memahami pentingnya belajar yang sejalan dengan standar dari lembaga resmi yang berlaku. Dalam hal ini, pembelajaran Al-Qur’an Isyarat harus mengacu pada standar metode yang telah ditetapkan oleh Lembaga Pentashih Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) selaku regulator yang berfokus pada pengkajian Al-Qur’an Isyarat. Mengingat setiap hasil dari penguasaan kompetensi perlu mendapat validasi dari pegiat Al-Qur’an yang lain, sebagaimana seorang santri yang perlu disimak oleh sesama, orang tua, atau gurunya untuk memastikan ketepatan kompetensi yang dikuasai.
“Ini adalah pengalaman pertama saya mengikuti pelatihan dan belajar bersama tentang Al-Qur’an Isyarat. Saya senang karena mendapat ilmu yang sangat bermanfaat. Harapannya, program ini akan terus berlanjut,” demikian testimoni salah satu peserta tuli dari Komunitas Gerkatin Gunung Kidul.
Usai terlaksana selama dua pertemuan, bukan berarti program telah berakhir dan selesai. Namun, justru inilah babak baru dari dakwah Al-Qur’an Isyarat di Gunung Kidul, yakni membangun ruang-ruang belajar terbuka, menjaga dan mengembangkannya pada cakupan yang lebih luas dan level kompetensi yang lebih tinggi. Penyelenggaraan kajian intensif menjadi urgent sebagai bagian dari upaya memfasilitasi tekad dan semangat untuk belajar Al-Qur’an bersama. Harapannya, ini adalah momentum membangun kesadaran untuk membumikan Al-Qur’an di Gunung Kidul untuk semua kalangan. Tanpa Terkecuali.
