Kelas menulis opini untuk muslim tuli kembali digelar. Tepatnya pada 10 Agustus 2025 lalu. Selisih satu pekan menuju Dirgahayu Kemerdekaan RI. 17 Agustus 2025. Detik-detik menuju momentum hari istimewa ini ternyata menjadi ide topik berkreasi. Masih bersama Bandung Mawardi, para muslim tuli diberi ruang untuk bernostalgia tentang momen paling berkesan seputar upacara bendera pada sekian tahun silam.
Meski hanya sembilan peserta yang memenuhi meja-meja panjang pembelajaran, riuh diskusi itu tetap hidup dari ramainya isyarat yang ditransliterasikan oleh Juru Bahasa Isyarat (JBI). Perlahan, mereka mulai terlatih menulis. Deretan kisah itu tidak lagi berhenti pada satu dua paragraf. Sebagian, telah memenuhi satu halaman kertas A4. Mereka mulai memahami cara-cara merangkai kalimat lalu menjahitnya menjadi sebuah cerita. Tidak lain karena mereka menemukan ruang kebebasan untuk berekspresi tentang segala emosi yang pernah dialami lalu diperdengarkan tanpa khawatir untuk dihakimi.
Tak jarang, gelak tawa tercipta di sela cerita nostalgia yang menggelikan. Apresiasi juga terus mengalir dari setiap tanggapan yang dilontarkan pemateri. Rutinitas bercerita dari lisan dan tulisan pada setiap pertemuan dihidupkan agar menjadi budaya yang langgeng dalam diri mereka. Harapannya, menulis menjadi aktivitas mengekspresikan diri hingga lahir karya dari hasil pemikiran para muslim tuli.
Sepekan menuju 17 Agustus, menciptakan momentum akan terciptanya embrio karya terbaik dari para muslim tuli. Cerita, opini, dan hasil pemikiran mereka akan disatukan sehingga lahir buku perdana karya Muslim Tuli Yogyakarta dan Magelang. Buku perdana ini adalah persembahan terbaik untuk HUT Kemerdekaan RI Tahun 2025. Buku perdana ini bisa jadi adalah karya antologi tuli pertama di sepanjang sejarah Indonesia. Buku perdana ini adalah batu pijakan pertama menuju lahirnya karya-karya terbaik lainnya dari para muslim tuli.
