
2019 menjadi tahun pertama Umar (14) kembali memfokuskan pada Al-Qur’an. Berasal dari keturunan pesantren, menumbuhkan keinginan dalam diri Umar untuk mondok. Tidak hanya itu, tetapi juga berkeinginan untuk menghafalkan Al-Qur’an karena fadilah-fadilahnya. Mondok bagi dirinya menjadi sebuah keharusan, meskipun tidak ada perintah langsung dari orang tuanya. Namun karena orang tua dan kakaknya juga berasal dari dunia pesantren, maka bagi Umar, melanjutkan perjuangannya di dunia pesantren adalah suatu keharusan. Diperkuat lagi dengan keinginan dirinya menjadi hafidz Qur’an sejak kelas 5 SD.
Kesulitan di awal memang dirasakan oleh Umar, karena harus khusyu’ dalam mempelajari dan menghafal Al-Qur’an. Sulitnya ayat yang dijumpai tidak jarang membuat Umar merasakan malas untuk menghafalnya. Tapi karena melihat teman-teman yang lain setoran hafalan, seolah muncul tantangan dalam diri, jika lain bisa kenapa dirinya tidak. Akhirnya terbawa kembali dalam derasnya arus menghafal.
Butuh kegigihan dan kesungguhan. Pemahaman dalam setiap kata pun ia telateni. Dari satu ayat menjadi satu baris, kemudian satu muka halaman hingga saat ini sudah menghafalnya hingga 7 juz. Remaja kelahiran Bantul ini juga bercita-cita menjadi seorang pengusaha. Bukan sekedar cita-cita dunia yang ingin diwujudkan. Dirinya juga ingin menjadi hafidz qur’an yang nantinya bisa kembali pulang ke tempat dirinya dilahirkan untuk berkiprah mengajarkan apa yang telah ia dapatkan selama mondok di Rumah Tahfidz Nashru Sabilunnajah Yogyakarta.
Sahabat dapat membantu Umar mewujudkan cita-cita mulianya dengan menjadi wali asuhnya, dengan cara mengisi link formular wali asuh bagi ananda Umar
