Sandal Karet Penguji Hafalan Ahkam

Ada banyak jalan menuju Roma. Begitulah sepenggal kalimat sempat terucap dari lisan penghafal Al-Qur’an muda yang bercita-cita menjadi dokter. Menapaki usia 19th pemilik nama lengkap El Ahkam Taufiqul Ahmad, qadarullah sudah 21 juz berhasil ia hafalkan. Keraguan dan ketidakmungkinan terpatahkan oleh perjuangan yang ia lakukan. Remaja kelahiran 2 Mei 2005 adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Menjadi contoh dan panutan sudah sepatutnya ia tunjukkan bagi kedua adiknya.

Sempat tersesat, jauh dengan hafalan Al-Qur’an, ternyata diberikan jalan mampu untuk menghafalnya. Besarnya pengaruh lingkungan pertemanan membawa Ahkam sampai di titik sekarang. Berawal dari ajakan teman, kemudian mencoba, ternyata Ahkam merasakan kecanduan pada Al-Qur’an.

“Awalnya saya sempat tersesat. Gak kenal yang namanya hafalan Qur’an. Pokoknya jauh dengan hafalan Qur’an. Waktu itu pas kelas IX SMP saya diajak teman, akhirnya yaa iseng-iseng ngikut aja, eh malah ketagihan”, ungkap Ahkam sembari mengingat kisah perjalanan menghafal Al-Qur’an.

Tantangan menghafal Al-Qur’an juga ia rasakan. Berasal dari background keluarga petani, kisah kontra dari masa lalu juga ia hadapi. Kegiatan keagamaan dan dakwah adalah kegiatan yang sempat dibatasi oleh kakeknya. Namun pada akhirnya, saat cerita perjuangan Ahkam menghafal Al-Qur’an terdengar di telinga kakek, rasa bangga dan haru pun menyelimuti sang kakek.

Harus terbaring bahkan tidak mampu untuk berdiri juga sempat Ahkam alami di tengah perjuangan menghafal Al-Qur’an. Bukan tanpa sebab, melainkan riwayat sakit yang dialami Ahkam kala itu sudah mulai dirasakan sebelum dirinya mulai menghafal Al-Qur’an. Remaja kelahiran Boyolali ini mempunyai riwayat alergi dengan sandal karet. Penyakit yang diderita semakin parah di tahun-tahun berikutnya. Nanah dan telapak kaki yang melepuh membuat dirinya sempat tidak bisa berjalan.

Dihadapkan dengan hati dan pikiran yang tidak selaras. Patah semangat tentu pernah dirasakan juga. Keharusan menghafal Qur’an dihadapkan dengan perjuangan Ahkam melawan penyakit yang ia rasakan. Sampai pada akhirnya dia menemukan titik damai dan kembali lagi fokus dengan hafalan bahkan sekarang sudah bisa beraktivitas dan berjalan seperti remaja lain. Meskipun sakit di telapak kaki masih dia rasakan. Rasa perih dan pedih dilawan untuk tetap bisa melangkahkan dan memperjuangkan kemuliaan di jalan ALLAH.

Penyakit yang nampak oleh mata dan dirasakan oleh santri binaan rumah tahfidz Zulfa Qurrota A’yun, Yogyakarta ini bukan suatu permasalahan yang besar. Bagi Ahkam cobaan dan musuh terbesar adalah diri sendiri. Karena ada ego, rasa malas, dan segala sifat buruk yang melekat dalam dirinya.

“Meskipun udah bisa jalan seperti biasa, sebenarnya sakitnya juga masih sampai sekarang. Kalau pake sandal karet pasti kambuh, bisa sampai keluar nanah. Tapi bagi saya ujian paling besar adalah diri saya sendiri. Karena harus melawan ego, males, pokoknya semua yang buruk-buruk di diri saya…” ungkap Ahkam dengan tenang.

Meskipun berasal dari keluarga biasa, semangat menghafal Ahkam begitu tinggi. Bercita-cita menjadi hafidz sekaligus seorang dokter adalah doa yang ia perjuangkan. Berharap kemuliaan bisa didapatkan untuk keluarga di akhirat kelak. Sepanjang apa yang ia lakukan, ia percaya bahwa Al-Qur’an akan memuliakan orang-orang yang memuliakannya.

Sahabat mari dukung Ahkam mewujudkan cita – citanya untuk menjadi Hafidz sekaligus seorang Dokter. Sahabat dapat mengisi formulir berikut untuk mendaftar menjadi wali asuh bagi Ananda El Ahkam Taufiqul Ahmad

Need Help? Chat with us
Scroll to Top