
Kerap disapa Safira (12), gadis anggun putri bapak Murtijo dan Ibu Jazamah menjadi salah satu gadis yang memiliki semangat tinggi dalam menjalani kehidupan. Bagaimana tidak? Gadis semuda itu sudah mulai membulatkan tekad melejitkan mimpi-mimpinya untuk membahagiakan kedua orang tua.
Bercita-cita menjadi salah satu penghafal Qur’an dalam keluarganya, merupakan bidikan utama gadis pemilik nama lengkap Safira Nur Azizah. Meski bukan berasal dari keluarga pesantren apalagi penghafal Qur’an, namun tekad Safira sudah bulat, karena dalam keluarga besarnya belum ada yang menghafal Al-Qur’an.
“Aku tuh pengen jadi penghafal Qur’an, soalnya cucunya mbah belum ada yang hafal Qur’an. Pengen bisa terus doain mbah, orang tua, keluarga, dan semuanya” tuturnya dengan lembut.
Suara lirih bicaranya, gadis kelahiran Bantul, 2 Februari 2009 di ruang tamu rumah Tahfiz al Ansor, juga menceritakan bahwa ternyata perekonomian keluarganya juga tidak stabil. Saraf kejepit yang diderita sang bapak bertahun-tahun, membuat tulang punggung keluarga ini harus mengalah dengan keadaan yang ternyata sudah tidak sesehat dulu, mau tidak mau sang ibu pun membantu mencari nafkah untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Perjalanan hidup yang dialami gadis 4 bersaudara ini membuat dirinya bersikap dewasa. Kegigihan dan semangat yang ia miliki membuat Safira memberanikan diri untuk memulai belajar menghafal Al-Qur’an. Ia percaya bahwa dengan menghafal Al-Qur’an Allah akan mempermudah apa yang menjadi cita-citanya.
Kejar paket B juga menjadi pilihan dalam melanjutkan sekolah, karena perekonomian keluarga yang kurang stabil. Namun hal tersebut tak membuat semangat Safira padam. Justru yang ada semakin tinggi. Memberanikan diri pelan-pelan mulai beradaptasi dengan hafalan. Memang tidak mudah mengawali, tapi lebih sulit lagi jika tidak ada yang memulainya.
Dalam hati Safira, diam-diam ada keberanian yang mulia. Ingin doanya terus mengalir bukan hanya untuk menjadi Dokter sekaligus hafidzah, namun juga ingin selalu berdoa untuk kesembuhan bapak yang ia cintai.
“Lihat bapak sakit, aku ga tega, kasihan, pengen bapak sembuh. Kalau hafalannya susah, inget cita-cita jadi semangat lagi…” cerita Safira dengan mata berbinar
Bukan hanya semangat dalam dirinya yang menjadi kekuatan Safira bertahan, tetapi juga support keluarga dan ustadzah yang sepenuhnya mendukung, melipatgandakan semangat Safira dalam mulai belajar menghafal.
Memulai itu mudah, yang susah adalah istiqomah dalam menjalankan. Safira pun berharap dirinya bisa terus bersemangat apapun kendala yang dijumpai dalam belajar menghafal.
Tidak terpikirkan sedikitpun untuk berhenti belajar. Putuskan untuk menghafal adalah pilihan yang tepat.Tidak sekedar meraih mimpi dunia, gadis belia ini juga memandukan cita-cita jangka panjang yang ingin dipersiapkan untuk bekal di akhirat.
Sahabat dapat membantu Safira untuk mewujudkan mimpinya menjadi seorah Hafidzoh dengan menjadi wali asuhnya, dengan cara mengisi link formular wali asuh bagi ananda Safira .
