“Mama, setelah lulus SD nanti aku ingin lanjut SMP sambil nyantri di pesantren, biar aku bisa lebih fokus menyelesaikan hafalanku,” demikianlah cuplikan permintaan gadis kecil penghafal Al-Qur’an kepada sang Ibunda, Ibu Casmina. Semangatnya selalu membara dalam hal belajar dan menghafal Al-Qur’an. Satu petak ruangan sempit yang menjadi rumah tinggalnya itu menjadi saksi bisu perjuangannya dalam menghafal Al-Qur’an. Jika merasa tidak nyaman, ia beralih ke masjid terdekat untuk menghafal Al-Qur’an. Hanya ia satu-satunya gadis seusianya yang rajin ke masjid dan meramaikannya dengan bacaan Al-Qur’an. “Tidak apa-apa, Nak. Nanti kan yang dapat pahala bukan hanya kamu, tapi juga orang-orang yang mendengar bacaan Al-Qur’anmu. Siapa tau juga dari sana, bisa menarik teman-teman kamu buat ke masjid juga,” tutur sang Ibu.
Firdatun Nisa, namanya. Gadis kecil itu ternyata penerima Beasiswa Kader Hafizh Baznas Kota Yogyakarta angkatan II yang baru bergabung di bulan Februari lalu. Dimana secara tidak langsung, Ia juga santri binaan PPPA mengingat Baznas Kota Yogyakarta bermitra bersama Grha Tahfizh Daarul Qur’an Yogyakarta dalam penyelenggaraan program Beasiswa Kader Hafizh mulai dari proses rekrutmen, seleksi, hingga pembinaan. Tidak hanya itu, Firda ternyata juga seorang siswa berprestasi di sekolahnya. Dia berhasil menjadi delegasi sekolahnya dalam berbagai kompetisi akademik maupun non akademik. Tampak dari jajaran piala yang tertata rapi di atas lemari saat kami berkunjung ke rumahnya. Tak heran jika sekolah menawarkan beasiswa untuk lanjut studi ke jenjang SMP di sekolah pilihan.
Diam-diam, sang Ibu terharu dan sangat bersyukur dikaruniai seorang putri sholehah seperti Firda. Keterbatasan beliau dan suami dalam mengajarkan Al-Qur’an, nyatanya justru membuat Firda kian semangat untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an. Ibu Casminah pun sangat mendukung dan senantiasa mengupayakan apapun impian Firda, terutama mimpi menjadi santri penghafal Al-Qur’an yang tuntas 30 juz.
Ibu Casminah bercerita dengan bola mata berkaca-kaca. Sejujurnya dalam hati, apapun akan diupayakan untuk mendukung impian putri tercinta. Namun, sepertinya untuk sekolah sembari nyantri rasanya terlalu berat karena secara umum pasti membutuhkan biaya yang besar. Jikalau harus merealisasikannya pun sebisa mungkin tetap mencari pesantren dan sekolah yang terjangkau dari segi biaya. Namun, perihal ini beliau masih belum mendapatkan referensi. “Tidak apa-apa, Ma. Yang penting aku bisa sekolah sambil nyantri. Aku sangat ingin bisa menyelesaikan hafalanku,” pintanya.
Kunjungan siang terik ke rumah Ibu Casminah hari itu membuat kami terkesima. Tekad kuat Firda mengingatkan kami pada kisah santri Kampung Qur’an Merapi dari keluarga dhuafa bernama Syifa Salsabila. Dia juga memiliki keinginan dan tekad yang kuat untuk sekolah sambil nyantri untuk melanjutkan hafalan Al-Qur’annya. Alhamdulillah, saat ini Syifa telah berhasil merealisasikan mimpinya menjadi santri di Rumah Tahfizh Nurul Qur’an Kokap dengan bantuan Beasiswa Kader Tahfizh dari PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta. Sama seperti Syifa, tekad Firda tidak boleh memudar karena kondisi ekonomi keluarga. Tekad mulia itu terlalu mahal untuk ditelantarkan karena berkaitan dengan masa depan generasi. Maka kami menawarkan beberapa alternatif mekanisme sekolah dan nyantri dengan beasiswa dari PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta. Penawaran ini bisa menjadi pilihan yang dipertimbangkan dalam rentang waktu menuju kelulusan Firda di kisaran bulan Juni 2025. Penawaran ini sekiranya juga cukup melegakan Firda dan Ibu Casminah, sehingga tidak menjadi beban pikiran sepanjang hari. Firda tersenyum. Wajahnya berseri-seri karena sebentar lagi mimpinya terealisasi. Pun dengan Ibu Casminah.
Penghalang tekad santri dhuafa nyaris sama, yaitu persoalan biaya. Oleh karena itu, kami sebagai Lembaga Amil Zakat Nasional yang bergerak dalam Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an hadir untuk membantu para santri dhuafa merealisasikan mimpi besarnya, menjadi Penghafal Al-Qur’an, melalui Beastudi Kader Tahfizh. Beastudi kali ini menjadi program baru dan didesain untuk para santri lokal wilayah Yogyakarta dari keluarga dhuafa dan Kampung Qur’an. Adanya beastudi ini menjadi bagian dari kontribusi sekaligus aktualisasi PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta dalam menyiapkan kader atau generasi yang bisa melanjutkan perjuangan syiar dan dakwah Al-Qur’an di wilayah Yogyakarta dan Kampung Qur’an.
