Di sebuah lorong berjeruji besi di tengah komplek LAPAS Kelas IIA Yogyakarta, cahaya kebahagiaan tiba-tiba memancar begitu terang. Enam orang guru Al-Qur’an berdiri tegak dengan senyum yang tak bisa mereka sembunyikan. Di tangan mereka, selembar sertifikat berlogo garuda menjadi bukti bahwa perjuangan mereka mengajarkan Kalamullah di balik penjara bukanlah usaha yang sia-sia. Hari itu, hati mereka terasa lapang, seakan jeruji yang membatasi kebebasan menjelma gerbang kemuliaan.
Raut wajah mereka berkisah banyak hal, ada kebanggaan, ada haru, ada keyakinan yang semakin kokoh. Sertifikat dari BNSP RI yang mereka terima bukan sekadar kertas berisi tinta dan tanda tangan, tetapi simbol pengakuan negara bahwa mereka kini berdiri kompeten sejajar dengan guru-guru Al-Qur’an di luar sana. “Alhamdulillah,” ucap salah seorang di antara mereka lirih, menahan air mata yang hampir jatuh.
Momen itu terasa begitu sakral. Madrasah Al-Qur’an Al-Fajar, yang tumbuh di dalam LAPAS Kelas IIA Yogyakarta, menjadi saksi lahirnya para pengajar yang ditempa bukan hanya dengan ilmu, tetapi juga dengan muhasabah dan tekad untuk bangkit. Kini, mereka adalah guru yang menyalakan cahaya Al-Qur’an di hati banyak orang.
Suasana penyerahan sertifikat berlangsung sederhana, tetapi kebahagiaan yang hadir tak bisa diukur dengan apapun. Tawa bahagia di sela-sela doa yang mereka panjatkan. Beberapa dari mereka bahkan mengangkat sertifikat tinggi-tinggi, memperlihatkannya kepada teman-teman lain dengan senyum lebar. Seakan-akan, dunia di luar penjara pun harus tahu: di balik jeruji, guru-guru Qur’an kompeten sedang dilahirkan.

Di antara mereka, ada yang menatap sertifikat itu lama sekali. Jemarinya meraba setiap huruf, seolah ingin meyakinkan diri bahwa apa yang ia genggam benar-benar nyata. “Saya dulu tidak pernah membayangkan bisa mendapatkan ini,” ujarnya pelan. Mata yang pernah redup karena masa lalu kini kembali bersinar, diterangi oleh cahaya Al-Qur’an dan pengakuan yang penuh makna.
