“Nge-Camp, Ngaji, dan Nyate” bersama Muslim Tuli di Bukit Klangon

“Bisa jadi suasana mengaji yang berbeda di bulan Juni”, itulah pernyataan yang kami tangkap dari perbincangan secara isyarat di tengah muslim tuli pada kajian terakhir di bulan Mei 2024 lalu. Kami mengangguk paham. Mengiyakan sambil bergerak merancang peta rencana agenda mengaji untuk muslim tuli pada  Juni. Mengingat bertepatan dengan periode Idul Qurban dan 1 Muharram yang dekat, kami akhirnya sepakat untuk menyusun sebuah event “Nge-Camp, Ngaji, dan Nyate” bersama di Bukit Klangon. Salah satu destinasi wisata alam yang berada dalam cakupan wilayah Kampung Qur’an Merapi.

Ini menjadi kali pertama dalam hidup mereka, pengalaman mengaji sambil menikmati pesona keindahan pemandangan dan keseruan ‘nyate’ bersama di Bukit Klangon, lokasi berkemah terdekat dengan kawah Merapi. Ini juga menjadi kali pertama mereka camping dan bermalam di alam terbuka. Secara tidak langsung, kami ingin menyampaikan beberapa konsep mengaji yang berbeda dalam satu waktu kepada mereka, yakni mengaji Al-Qur’an, mengaji hikmah, dan tadabbur alam.

Mengaji dan berbagi metode Al-Qur’an Isyarat seperti menjadi kegiatan favorit untuk mengisi sela waktu luang mereka. Sebagaimana di sela waktu maghrib dan isya’, sambil menunggu sesi berbagi kisah, mereka memilih mengisinya dengan mengaji Al-Qur’an isyarat di saat yang lain berbincang santai. Mereka juga tak pernah keberatan, justru sangat senang setiap ada yang antusias untuk belajar Al-Qur’an Isyarat. Mereka tak segan untuk berbagi berulang kali tentang bagaimana mengisyaratkan salam, terima kasih, istighfar hingga mengajarkan ejaan huruf hijaiyah satu per satu.

Makin malam, kabut dan dingin makin membalut Bukit Klangon, dengan iringan rintik hujan yang semakin deras, memang mengurungkan agenda api unggun bersama malam itu. Namun, tak menurunkan esensi berbagi kisah bersama Muslim Tuli Yogyakarta (MULIA) dan Dai Program Kampung Qur’an Merapi. Hangatnya api unggun, telah digantikan dengan kehangatan kisah perjuangan muslim tuli dalam mempelajari Al-Qur’an Isyarat. Kenyamanannya sama dengan menyimak muslim tuli praktik melafalkan surat Al-fatihah secara isyarat melalui makna dan lafal huruf. Seluruh pasang mata terfokus pada satu arah yang sama, irama tangan yang lincah dalam mengisyaratkan setiap huruf dan kata dalam Surah Al-Fatihah. “Masya Allah,” satu kalimat takjub yang meluncur dari setiap bibir dan hati seluruh pasang mata yang menyaksikannya.

Mengaji hikmah disusul pada waktu subuh dan dhuha. Pada Subuh, kajian diisi langsung oleh Ustadz Baidhowi, selaku Dai Kampung Qur’an Merapi. Dinginnya hawa subuh di Bukit Klangon, telah dihangatkan oleh kisah yang sarat makna bagi muslim tuli. Sebuah kisah yang membuahkan hikmah bahwa di balik ujian dalam bentuk kekurangan, keterbatasan atau lainnya yang Allah SWT. berikan, Dia selalu memiliki rencana dan maksud yang baik untuk hamba-Nya. Hikmah pagi itu seperti buah tangan yang bisa menjadi bekal untuk menempuh perjalanan panjang selanjutnya bagi para muslim tuli, agar mereka selalu berprasangka baik atas kondisi yang dianugerahkan oleh Allah SWT.. Seusai mengaji hikmah pagi hari, kami memberi kesempatan untuk mereka berkeliling Bukit Klangon menikmati sejuknya udara pagi dan pesona keindahan ciptaan-Nya.

Pengalaman kali pertama ini menjadi momentum yang banyak mereka dokumentasikan, sehingga bisa mereka kenang kembali suatu hari nanti. Mengaji hikmah berlanjut di waktu dhuha bersama pendakwah lokal. Mengaji hikmah ibarat sebuah pupuk yang menguatkan pondasi keimanan mereka sebagai kaum marginal yang minim literasi keislaman. Komitmen dan keimanan mereka masih butuh untuk terus diteguhkan, agar mereka tetap istiqomah semangatnya dalam mempelajari islam dan Al-Qur’an.

Seusai mengaji hikmah, agenda berlanjut dengan kegiatan ‘nyate’ bersama. Mereka tak segan berbaur dan membantu apapun yang bisa dilakukan. Mereka tampak sangat senang bisa menikmati lezatnya olahan daging yang mungkin tidak bisa mereka konsumsi dengan sering. Terlebih sambil memandang panorama alam Bukit Klangon yang tetap terasa sejuk meski di siang terik. Di tengah bercengkrama sambil menyantap makan siang bersama, tiba-tiba datang beberapa rombongan tamu secara bergantian. Ternyata, mereka terpanggil hadir atas ketertarikannya pada kajian Al-Qur’an isyarat bersama muslim tuli yang diadakan oleh PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta. Mereka antusias untuk belajar dan berbagi langsung bersama muslim tuli terkait Al-Qur’an isyarat.

Pada akhirnya. agenda “Nge-Camp, Ngaji, dan Nyate” bersama di Bukit Klangon terealisasi sesuai dengan konsep awal, menjadikannya sebagai wadah siapapun untuk berkesempatan berbagi dan belajar mengaji Al-Qur’an Isyarat bersama Muslim Tuli Yogyakarta. Tentu, mengaji Al-Qur’an dan hikmah sambil tadabbur alam di Bukit Klangon. Agenda ini juga menjadi momentum menebar syiar Al-Qur’an Isyarat di lingkup masyarakat yang berbeda, sehingga lebih banyak yang mengenal dan familiar dengan istilah Al-Qur’an Isyarat. Sebagaimana fitrah Al-Qur’an sebagai kitab suci yang rahmatan lil ‘alamin, Al-Qur’an isyarat juga tak membatasi ruang untuk muslim tuli, melainkan juga untuk siapapun yang tertarik bergelut dengan Al-Qur’an Isyarat.

Sedekah Sekarang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Need Help? Chat with us
Scroll to Top