Jejagongan Visi Besar

Jejagongan Visi Besar
Oleh: Isna Nur Fajria 
(Peserta Program BTQ for Leaders Angkatan 1 Wil. Yogyakarta, Mahasiswa Sospol UGM)

Tradisi menghafal Al-Quran sudah mulai membumi di Indonesia. Sejak didakwahkan secara apik oleh Ustadz Yusuf Mansur, kini jumlah penghafal Al-Quran tidak lagi hanya dihitung jari di tiap daerah. Ledakan jumlahnya kemudian menyisakan tanya, lantas apa yang akan dilakukan setelah menghafalkan Al-Quran? Ini menjadi satu PR dakwah yang cukup menderu sebagai antisipasi dari output penghafal Quran yang cenderung kurang peka terhadap permasalahan, juga sebagai alternatif dari gerakan-gerakan penghafal Quran yang dinamis.

BTQ for Leaders PPPA Daarul Qur’an, sebagai salah satu ‘kanal kelas menengah’ memang dipercepat untuk mencetak kader pemimpin peka sosial dan mengakar kuat di masyarakat kelas bawah sebagai satu ikhtiar dari kegundahan tadi. Untuk membangun satu kesepahaman yang menjadi visi bersama, Sunaryo Adhiatmoko mengajak peserta BTQ for Leaders wilayah Yogyakarta angkatan 1 dan 2 untuk jagongan (berbincang). Memang ini garis yang telah ditetapkan, wejangan kecil itu rupanya mampu membuka pandangan disela lengahnya menata diri membawa pundak perubahan, di tengah derasnya demoralisasi yang menggerus hati dan melawan kiab suci pula.

Selasa malam (3/10), menjadi pertemuan tatap muka pertama bagi angakatan 2 untuk mengenal BTQ for Leaders lebih jauh bersama salah satu penggagasnya. Pesannya kepada 10 orang peserta jagongan kurang lebihnya seperti ini, “bukan tipe beasiswa yang memasang IPK tinggi tanpa aksi, karena IPK itu suatu keniscayaan atas buah ikhtiar. Namun lebih ke bagaimana keberadaan kita mencipta kemanfaatan dengan merealisasikan pesan-pesan Al-Quran. Juga memandang ke depan, mindset diri dengan mulai meletakkan Indonesia dengan skala global yang diikat dengan pendekatan ukhrowi. Hingga tak lagi nanti ditemukan para kelas tinggi mencuri, para peneguk ilmu melukai harga diri, dan para pembawa Kalam Ilahi menopang dagu melihat situasi.”

Kini, hampir 150 mahasiswa peserta program BTQ for Leaders dari 23 kampus terbaik ditempa di seluruh Indonesia. Kata Sunaryo, “orang terbaik itu hanya sedikit, kalau banyak berarti terbanyak.” Selintas memang seperti guyonan, tapi memang benar adanya jika ditelisik lewat sirah nabawi pula. Dari sekian banyak mahasiswa ini, jika nanti yang berhasil mencetak visi hanya segelintir bukanlah apa-apa.

Jika dinilai gagal juga tak mengapa, karena persepsi yang ditularkan Sunaryo bahwa gagal itu anugerah. Terlebih jika berhasil meresapi makna dan inti sarinya. Karena bisa jadi saat kita sukses, kita justru gagal memaknai sukses ataupun gagal meredam kebanggaan diri.

Tapi satu hal yang disiratkan malam itu, seruan Sunaryo untuk para peserta jagongan, agar berlomba menjadi yang terbaik. Pengasahan ideologi agama Islam menjadi pondasi kuat yang harus diresapi, sehingga langkahnya tidak lagi surut oleh kekhawatiran. Yakin meletakkan ilmu untuk berpihak pada ayat Quran. Menjadikan tiap titik temu permasalahan sebagai barometer keimanan, karena tidak ada pertemuan yang akan sia-sia. Hingga nanti hati tak lagi terpaut untuk dijadikan idola penduduk bumi namun hanya akan risau jika tak kunjung pantas jadi penbincangan penduduk langit.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Need Help? Chat with us
Scroll to Top