Dingin hawa Gunungkidul dini hari tak menyurutkan tekadnya. Sebelum Shubuh berkumandang ia sudah siap. Di dalam hati ia terus mengulang hafalan Al Fath. Sesekali ia bercermin, membetulkan letak kerudung. Ba’da Shubuh, ia makin sumringah. Mobil yang akan mengantarnya ke Yogyakarta tiba di pelataran Pondok Rumah Sejahtera, Ponjong, Gunungkidul. Fatma Faidah (15), siswi kelas IX (Madrasah Tsanawiyah) MTS Muhammadiyah Ponjong ini siap mewujudkan impiannya.
Sementara itu, aktivitas Shubuh di Masjid Kampus UGM agak berbeda. Selain jamaah Shubuh, sudah banyak orang berseliweran. Setelah Shubuh, makin kentara, banyak orang lalu lalang membawa meja, kursi, dan tikar. Di ruang utama, petugas soundsystem terampil mengecek suara. Petugas konsumsi, tim perlengkapan, dan petugas administrasi, semua cekatan menyiapkan diri. Perhelatan akbar siap digelar.
Selama 1,5 jam perjalanan bersama empat kawannya, Fatma, tak henti-henti memantapkan hafalan. Ini, akan menjadi kali pertama ia menyetorkan hafalan, selain kepada Eros, guru tahfidz di pondok ia tinggal. Santri umum asal Wonosobo ini tuntas menghafal Surat Al Fath selama empat hari, tetapi ia tak cukup puas begitu saja.
“Banyak dibaca. Diulang-ulang,” katanya yang juga memiliki 6 juz hafalan Alqur’an. Sebelum jam 06.00 WIB, santri-santri sudah berdatangan. Tak hanya dari wilayah Jogja saja, dari luar kota seperti Semarang pun, santri berbondong-bondong menyemarakkan Wisuda Akbar 8 Dunia Menghafal. Program PPPA Daarul Qur’an ini, tak hanya menyasar rumah-rumah tahfidz. Santri-santri umum pun diberi kesempatan.
Antusias mereka tak kalah dengan santri-santri rumah tahfidz yang datang dengan seragam masing-masing.
Bagi santri-santri tahfidz ujian hafalan diadakan secara mandiri sepekan sebelumnya. Ujian hafalan bervariasi untuk tahfidz 1 juz hingga 30 juz. Sementara untuk santri umum disediakan waktu 3 jam untuk ujian hafalan Surat Al Fath dengan metode sambung ayat. Setelah melakukan registrasi ulang, masing-masing santri mengambil tempat ujian. Ada yang memilih muroja’ah sendiri. Sebagian lainnya meminta kawan di depan, untuk menyimak hafalannya.
Seiring waktu, tikar yang disiapkan dipenuhi santri-santri sembari memantapkan hafalan.
Sekitar pukul 07.00 WIB, lokasi ujian semakin ramai. Lantunan merdu Al-Qur’an dari berbagai usia dan ragam asal daerah terdengar. Di antara anak-anak dan pemuda, seorang ibu terlihat sedang membantu ibu yang lain membetulkan bacaan. Tiga ibu itu memegang catatan selembar kertas ukuran folio yang telah dicetak ayat-ayat Al Fath. Suaranya lantang, meskipun terbata-bata. Bila ditaksir, usianya lebih dari 60 tahun, tapi semangatnya membara layaknya pemuda.
“Hafalnya setengah bulan. Dipake sholat. Sebelumnya sudah disetor ke ustadz, katanya masih banyak yang salah, tapi tadi, Alhamdulillah kata ustaznya sudah lancar,” begitu terang Titiek Nordjanah, salah satu jamaah Majelis Tahsin Pringgolayan, Kotagede, Yogyakarta, seusai mengikuti ujian hafalan.
Tak kalah dengan anak-anak dan pemuda, rombongan ibu-ibu ini pun berpose dengan sertifikat di tangan. Wajahnya sangat ceria. Mereka mantap menjawab 30 juz ketika tim PPPA Daarul Qur’an menanyakan target hafalan. Titiek Nordjanah, salah satu jamaah, mengatakan yang terpenting niat dan ingin memanfaatkan sisa umurnya. “Itu yang muda-muda, yang masih banyak umurnya, buat apa aja…” begitu selorohnya.

Prosesi Sakral
Tabligh akbar bersama Ustadz Sholihudin Al Hafidz dimulai jam 09.00 WIB. Sebanyak 2.711 santri siap menyimak nasihat pengajian. Mereka pun siap berikrar sebagai wisudawan. Wajah mereka teduh bercahaya. Di sekeliling bahagia memancar. Berulang-ulang takbir membakar semangat meski duduk saja harus berdesak-desakan.
KH. Drs. Thaha Abdurrahman, Ketua MUI Provinsi Yogyakarta, pun berkenan memberikan sambutan. Dari lirih suara Kyai Thaha, semangat beliau menular ke seluruh jamaah. Beliau, yang sudah sepuh dan menderita stroke selama 9 tahun, turut hadir dan mendoakan keberkahan pada Wisuda Akbar ke-8 ini.
Sementara Ustadz Tarmizi Assidiq, Direktur Eksekutif PPPA Daarul Qur’an menjelaskan,
“Kali ini serentak diselenggarakan di 17 negara dan 17 provinsi di Indonesia. Amerika, Palestina, Jerman Hongkong,…,” ungkapnya saat pembukaan Tabligh Akbar, kemarin (22/10).
Surat Al Fath yang sejak pagi terlantun di luar masjid, kembali bergema di ruang utama. Suara merdu Syeikh Abdul Basith (21), seorang asli Indonesia yang lahir dan tinggal di Mekah ini kembali menghimpun takbir. Santri-santri pun tak bisa menahan diri, dengan berbisik mereka mengikuti ayat demi ayat yang dibacakan. Riuh takbir kembali bergema.
Tak kalah semangat, dr. Sagiran, Sp.B., M.Kes, ahli bedah sekaligus hafidz Qur’an ini berapi-api menjelaskan 5 area otak manusia. “Lobus Frontalis, di depan, itu pusat. Jumlah selnya melebihi jumlah bintang di langit. Proses memorizing, menghafal, seluruh sel otaknya aktif,” jelasnya. Ia pun menambahkan “Tidak ada suara yang lebih merdu daripada lantunan ayat Al-Qur’an”.
Tibalah waktu pembawa acara membacakan nama-nama. Prosesi yang ditunggu-tunggu sejak pagi tadi, bahkan dua bulan lalu, bahkan bertahun-tahun sebelumnya, akhirnya di depan mata. Samir dikalungkan. Berjabat dengan para ustadz, sebentar berfoto bersama, lalu seluruh santri berdiri. Ikrar wisudawan dibaca khidmat. Dipimpin Ustadz Tarmizi Assidiq seluruh santri berikrar. Mereka takzim berdoa. Berjanji akan mengulang hafalan, melanjut hafalan, dan mengamalkan Alqur’an. Tak sedikit yang haru menetes air mata. Tak terkata bahagia seluruhnya.
Perjalanan sebagai penghafal Al-Qur’an baru saja dimulai. Berani memulai berarti mesti bertanggungjawab mengakhiri.
Ustadz Sholihudin beramanat sepanjang hayat kita berkewajiban menjaga. Di tengah tausiyah beliau juga menyinggung kisah hebat di dalam Surat Al Fath, Perjanjian Hudaibiyah. “ Fathan Mubina, kemenangan yang nyata,’’ imbuh pengasuh Ma’had Al Firdaus Yogyakarta ini.
Kemenangan besar bagi para penghafal Alquran ialah mampu menjaga dan mengamalkan. Lebih dari itu, kebanggaan orangtua pasti terpancar. InsyaaAllah, mahkota paling bercahaya akan dikenakan, juga tiket ke surga tengah disiapkan.
Tepat di Hari Santri Nasional, takbir ribuan penghafal Al-Qur’an menderu ke langit. Doa mengangkasa. Rahmat dan berkah tercurah bagi semesta. Aamiin.
