Al-Qur’an Jadikan Ingatan Puguh Kuat Dalam Hafalan

Al-Qur’an dan motivasi memang selalu berkaitan erat. Bahkan seseorang yang awalnya tidak ada motivasi untuk menghafalkannya, lama kelamaan akan menemukan motivasi dengan sendirinya. Begitupun dengan Puguh Muhammad Hanafi (10). Anak polos yang masih senang bermain dengan kawannya, juga berkeinginan menjadi penghafal Qur’an.

 

Orang tua memang bukan berasal dari latar belakang pesantren ataupun ahli Qur’an. Namun menghafal Qur’an tidak perlu melihat latar belakangnya, karena semua orang dan semua usia bisa, selama keinginan dan perjuangan itu ada, maka akan ALLAH beri jalan. Usaha orang tua dalam memperbaiki pendidikan dan kehidupan, salah satunya dengan menyekolahkan Puguh di sekolah yang memiliki basic keislaman, sehingga nilai-nilai keislaman akan melekat dalam diri Puguh.

 

Sebagai orang tua, Bapak Suki dan Ibu Tutik yang kesehariannya berjualan nasi goreng, hanya bisa mendukung apa yang menjadi mimpi anak. Tidak lupa juga selalu mengajak kebaikan ataupun hal-hal yang bernilai ibadah. Dari didikan orang tua, Puguh tumbuh menjadi anak yang sangat suka diajak kebaikan termasuk jamaah. Pernah suatu waktu saat dirinya tidak dibangunkan sholat Jumat, dia juga merengek menangisi hal tersebut.

 

Di usia yang masih belia, Puguh yang merupakan santri terbaik dari Rumah Tahfidz Ksatria Taqwa, Yogyakarta ini sedang belajar untuk mulai menghafal Qur’an. Dimulai dari suratan pendek juz 30. Bercita-cita menjadi penghafal Qur’an dan Dai menjadi salah satu alasan Puguh semangat dalam menghafal. Bagi Puguh, menghafal itu bukan hal yang sulit. Apalagi menurut keterangan orang tua, Puguh merupakan anak yang cepat dalam menghafal. Ingatannya begitu tajam terutama untuk menghafal ayat-ayat ALLAH.

 

Care dan berjiwa sosial tinggi juga menjadi karakternya Puguh. Selain itu, Puguh juga mudah bersosialisasi dengan orang baru. Seringkali bocah ceria ini juga dekat dan akrab dengan guru-guru ngajinya. Tidak jarang juga karena kelebihan Puguh yang dapat belajar Al-Qur’an dengan cepat, dia juga diminta untuk ikut ngajarin santri lain, meski usia Puguh jauh lebih muda.

 

Hidup di lingkungan masyarakat, ujian Puguh hanya satu, yaitu lingkar pertemanan. Keinginan dirinya fokus belajar dan menghafal kadangkala juga harus dihadapkan dengan kehadiran teman-teman yang mengajak dirinya main. Ingin fokus belajar, namun juga tidak ingin kehilangan teman-teman main, karena usia sepantaran dirinya memang sedang senang-senangnya main dan petualangan. Apalagi ditambah dengan kecanggihan teknologi era sekarang, jika tidak dikontrol dengan baik, maka masa depan anak yang menjadi taruhannya.

 

Orang tua juga berharap, ke depan Puguh bisa menjadi kebanggaan orang tua tak hanya di dunia, namun juga di akhirat. Ikatan kedekatan dengan Al-Qur’an akan terus diperkuat dengan dampingan ustadz. Memulai sedari dini, agar nanti dewasa terbiasa interaksi dengan Al-Qur’an.

Sahabat dapat membantu Puguh mewujudkan cita-cita mulianya dengan menjadi wali asuhnya, dengan cara mengisi link formular wali asuh bagi ananda Puguh

Need Help? Chat with us
Scroll to Top