Dari Menghafal Ayat hingga Memimpin Umat: Jejak Langkah Uqinu Attaki 

Namanya Uqinu Attaki. Santri asal Tegal yang nyantri di Pesantren Insan Taqwa DI. Yogyakarta. Santri kelahiran tahun 2007 ini menyimpan tekad yang luar biasa dalam menghafal Al-Quran. Tekad itu telah tumbuh sejak Ia masih duduk di bangku kelas 4 SD. Beberapa juz terakhir dalam Al-Qur’an berhasil ia hafalkan. Sebelum pada akhirnya, ia membulatkan tekadnya untuk menempuh perjalanan panjang dalam menghafal kalam ilahi.

Seperti gayung bersambut, tekadnya ternyata disambut dengan terbuka oleh kedua orangnya. Sebuah keinginan besar yang sangat langka untuk seorang anak berusia 9 tahun, dimana ia memutuskan untuk menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Penjaga kalam Allah di sepanjang usianya. Pada akhirnya, keputusan itu mengantarkannya untuk melanjutkan pendidikan menengah pertamanya di sebuah pondok pesantren di daerah Kuningan, Jawa Barat. Semenjak itulah, perjalanannya dimulai sebagai seorang penghafal Al-Qur’an.

Perlahan, perjalanan panjang yang penuh liku itu membentuk dirinya menjadi sosok yang tangguh dan pantang menyerah. Ia abaikan segala distraksi yang memecahkan fokusnya dalam menghafal Al-Qur’an. Impiannya yang besar, mendorongnya untuk berani mendedikasikan seluruh waktu dan tenaga demi Al-Quran. Meskipun selalu ada rasa keraguan yang berupaya menggoyahkan pendirian, akan tetapi potret kesuksesan di masa depan dan harapan besar orang tua lah yang membuat Uqinu terus bangkit menerjang segala keraguan tersebut. Ada prinsip yang senantiasa ia pegang teguh, bahwa dalam sejarah masa muda orang-orang besar memang penuh dengan perjuangan.

Diam-diam, ada impian yang ingin ia gapai, bahwa Al-Qur’an-nya tidak boleh hanya berhenti terjaga dalam dadanya. Al-Qur’an tidak boleh hanya dikaji dalam ruang-ruang halaqah di pesantren. Tapi, Al-Qur’an-nya harus bisa berjalan, bergerak, dan menebar kebermanfaatan sebesar-besarnya. Al-Qur’an bukan hanya milik seorang santri atau orang-orang yang berada dalam ekosistem pesantren. Al-Qur’an adalah pedoman hidup, yang didalamnya juga terkandung nilai-nilai dan aturan dalam bermasyarakat dan bernegara. Impian itu ia ikrarkan kepada kedua orangnya, bahwa kelak di masa depan ia ingin menjadi ulama yang memimpin umat. Baginya, semakin tinggi posisi kepemimpinan seseorang, maka semakin besar pula manfaat yang bisa disebarkan kepada masyarakat luas. Ia meyakini bahwa posisi-posisi strategis tersebut harus diisi oleh orang-orang baik. Maka dengan demikianlah, keinginannya menghidupkan dan mengimplementasikan Al-Qur’an dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Tekad itu nyatanya bukan sekadar ikrar, tapi ia wujudkan dalam ikhtiar-ikhtiar sunyi yang ia jaga sepanjang waktu. Tiga hingga lima juz sehari tak pernah terlewat ia rapalkan dari hari demi hari, hingga itu menjadi pagu dan budaya spiritual yang ia bangun. Impiannya menjadi tokoh ulama, juga membuatkan haus untuk mempelajari dan mendalami keilmuan islam.  Maka dalam perjalanannya menghafal Al-Qur’an, ia juga mengkaji berbagai kitab, seperti Matan Abu Syuja’, Arba’in Nawawi, Aqidatul Awam, dan lainnya. Tidak hanya itu, ghirah-nya dalam belajar Al-Qur’an juga membuatnya tertarik untuk mentadabburi makna dari ayat-ayat yang ia hafalkan.

Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya 30 juz Al-Qur’an telah berhasil ia selesaikan pada 17 Oktober 2024. Namun, ia tidak berpuas diri. Baginya, Al-Qur’an tidak cukup dihafal, melainkan dimantapkan sehingga menjadi dzikir-dzikir sunyi yang bisa dirapalkan sepanjang waktu. Tuntasnya menghafal 30 juz Al-Qur’an, bagi Uqinu bukanlah akhir dari perjalanan panjangnya. Melainkan, justru babak baru menuju perjalanan menjadi penjaga kalam Allah yang sesungguhnya. Maka dari itu, ia memutuskan untuk melanjutkan program mutqin (pemantapan hafalan) di Pesantren Insan Taqwa DI. Yogyakarta.

Pada akhirnya, tepat pada bulan Mei 2026 lalu, Uqinu dinyatakan lolos dalam ujian Wisuda Tahfizh Nasional (WTN) 2026. Keberhasilannya tidak hanya berhenti di sana, ia juga masuk dalam nominasi wisudawan terbaik kategori Rumah Tahfizh Quran (RTQ) 30 juz. Ketekunannya berinteraksi dengan Al-Qur’an menampakkan hasilnya dalam proses seleksi wisudawan terbaik, bahwa ia lah yang konsisten dari segi kelancaran dan kefashihan bacaannya.

Selanjutnya, tepat pada 6 Juni 2026, hari besar itu pun tiba. Keikhlasan dan ketekunannya dalam menjaga hafalan Al-Qur’an membawa Uqinu pada prestasi gemilang yang luar biasa di panggung Wisuda Tahfizh Nasional. Uqinu ditetapkan sebagai Wisudawan Terbaik Pertama kategori Rumah Tahfizh Qur’an (RTQ) 30 Juz dari 480 wisudawan dari berbagai wilayah di Indonesia. Dibalik kesederhanaannya, ia menebar inspirasi yang luar biasa bagi siapapun yang hadir dan melihat keberhasilannya pada malam penghormatan itu. Malam itu, ia tidak hanya membawa pulang piala tertinggi dari wisudawan terbaik yang lain, akan tetapi Uqinu juga membawa penghargaan untuk bekal masa depannya, yakni sebuah beastudi Sertifikasi Kompetensi Al-Qur’an bidang Tahfizh BNSP RI dan Pengambilan Ijazah Sanad Al-Qur’an 30 Juz dari PPPA Daarul Qur’an dan Asosiasi Rumah Tahfizh Indonesia (ARTI). Hari itu, menjadi hari yang bersejarah bagi Uqinu, kedua orang tuanya, pesantren tempatnya berjuang menghafal Al-Qur’an, termasuk bagi PPPA Daarul Qur’an. Uqinu dengan jerih payah perjuangannya, telah membuktikan bahwa seorang santri juga bisa bermimpi besar, melampaui penilaian dan perspektif masyarakat yang masih memandang masa depan santri sebelah mata.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Need Help? Chat with us
Scroll to Top