LAZNAS PPPA Daarul Qur’an sukses menyelenggarakan “Workshop A to Z Program Development” yang berlangsung selama dua hari pada 5–6 Februari 2026 di Aula Graha Nur Hidayah, Bantul, D.I. Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti oleh 25 peserta yang berasal dari berbagai lembaga filantropi, termasuk cabang PPPA Daarul Qur’an se-Indonesia, LAZISMU Surakarta, LAZ Nurul Hayat, hingga MPZ SahabatQu Peduli. Workshop ini dirancang secara strategis untuk menjawab tantangan dunia zakat yang kini menuntut akuntabilitas tinggi dan program yang tidak sekadar karitatif, namun juga transformatif dan berkelanjutan.
Latar belakang kegiatan ini didasari oleh realitas bahwa banyak program sosial yang lahir hanya dari “niat baik” tanpa kerangka perencanaan yang matang. Seringkali, proposal disusun sekadar formalitas administratif, kajian dampak terabaikan, dan strategi penghimpunan dana (fundraising) berjalan terpisah dari desain program. Hal ini menyebabkan program sosial sulit direplikasi dan kurang meyakinkan bagi donor institusional. Oleh karena itu, workshop ini hadir sebagai ruang belajar untuk menguatkan kapasitas amil zakat dalam mengembangkan program dari hulu ke hilir, mulai dari ide hingga pengukuran dampak.
Dipandu oleh Trainer Utama Sigit Iko Sugondo dan Fasilitator Maulana Kurnia Putra, para peserta dibekali materi teknis yang padat dan aplikatif. Fokus utama pelatihan mencakup penguasaan mindset tata kelola program, analisis masalah menggunakan problem tree, penyusunan logical framework (LFA), hingga integrasi strategi proposal untuk kebutuhan fundraising. Tujuannya adalah menjembatani kesenjangan kompetensi teknis amil agar mampu merancang program berbasis data yang logis dan terukur, bukan sekadar berdasarkan asumsi.
Hasil evaluasi kegiatan menunjukkan peningkatan kompetensi yang signifikan di kalangan peserta. Berdasarkan data pre-test dan post-test, aspek “Analisis Masalah & Desain Program” mencatat kenaikan tertinggi sebesar 1,57 poin. Hal ini mengindikasikan bahwa peserta berhasil menguasai instrumen teknis seperti LFA yang sebelumnya jarang dipahami. Selain itu, terjadi perubahan paradigma yang mendasar: dari sekadar menjalankan program berbasis rutinitas menjadi program berbasis “investasi dampak” yang berorientasi pada penyelesaian akar masalah sosial.
Meskipun demikian, tantangan dalam integrasi antara program dan fundraising serta pemahaman mendalam mengenai monitoring dan evaluasi (Monev) masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Evaluasi menunjukkan bahwa aspek Monev memiliki skor akhir terendah dibandingkan aspek lainnya, menandakan perlunya pendampingan lanjutan. Meski begitu, adanya kolaborasi lintas lembaga dalam forum ini menjadi modal sosial yang kuat untuk membangun ekosistem filantropi yang lebih profesional dan terbuka terhadap kemitraan strategis dengan korporasi di masa depan.
Menutup kegiatan, Maulana Kurnia Putra selaku Manajer Pengembangan Program Strategis LAZNAS PPPA Daarul Qur’an menekankan bahwa kualitas program sosial adalah cerminan dari kualitas SDM Amil Zakat di belakangnya. Peningkatan kapasitas amil adalah investasi vital bagi keberlangsungan dan mengakarnya dampak lembaga zakat. Dengan berakhirnya workshop ini, diharapkan para peserta dapat segera merealisasikan draf proposal yang telah disusun kepada calon donor dan menerapkan standar baru dalam tata kelola program yang lebih transparan, berdampak, dan dipercaya publik.
