Senyum Pemberdayaan untuk Ibu Suharni

Perempuan paruh baya dari Kulonprogo itu bersama Ibu Suharni. Sosok perempuan tangguh yang kesetiaan dan dedikasinya pada sang suami tak diragukan lagi. Sudah 6 tahun berjalan, beliau merawat dan mendampingi sang suami yang terbaring lemah di atas ranjang selama 6 tahun. Riwayat stroke yang diidapnya tak kunjung menunjukkan tanda-tanda pulih. Berbagai ikhtiar pengobatan pun tak membuahkan hasil meskipun seluruh aset yang dimilikinya telah dikorbankan demi kesembuhan sang suami. Pada akhirnya, untuk tinggal pun harus menetap di rumah orang tua. Namun, pasca adanya konflik yang membuat beliau dan suami terusir, kini beliau menetap di sebuah rumah dengan status hak guna dari seorang kawan baik sang suami.

Tuntutan beralih peran menjadi tulang punggung keluarga merupakan beban yang tak bisa dielakkan oleh Ibu Suharni. Pasalnya, tak hanya demi keberlangsungan hidup. Melainkan, juga memperjuangkan kesembuhan sang suami yang harus intensif kontrol sekian kali dalam sebulan dan masa depan putrinya yang baru saja menempuh pendidikan tinggi. Beberapa waktu yang lampau saat kondisi sang suami mulai membaik, berbagai ikhtiar telah dilakukan demi memenuhi nafkah untuk keluarganya. Salah satu ikhtiarnya adalah berjualan di pasar sembari menerima pesanan produk bawang goreng yang diproduksi mandiri. Tanpa diduga, ternyata permintaan meroket. Kabar produk bawang goreng premium beliau telah menembus pasar Purworejo, Temanggung dan area jawa Tengah lainnya. Saat itu, perlahan, beliau berhasil mengembangkan mini usahanya. Tiga tetangga terdekatnya diberdayakan menjadi karyawan.

Namun, kondisi pelik kembali mengancam Bu Suharni. Penyakit suami kembali kritis dan kambuh di waktu yang tak terduga. Jadwal kontrol kian intens yang mengharuskan beliau bolak-balik ke rumah sakit. Oleh karena itu, beliau tak bisa lagi bekerja meninggalkan sang suami. Ketidakmampuannya untuk bekerja, terpaksa membuat beliau harus bergantung pada anak sulung yang sudah berumah tangga sendiri. Penghasilannya pun tak bisa diandalkan. Namun, di tengah kondisi peliknya, ada kemudahan yang tiba-tiba datang menghampiri. Putri keduanya ternyata mendapat beasiswa selama studi sarjana di perguruan tinggi, sehingga sangat meringankan beban beliau. Bantuan beras dari ex-partner kerja sang suami juga digulirkan dengan total 10kg setiap 3 bulan sekali.

Tapi, bergantung pada putra sulungnya secara terus menerus menumbuhkan rasa sungkan dan tidak nyaman. Keinginan untuk berwirausaha mandiri kembali terbesit dalam benak beliau. Terlebih dengan permintaan produk bawang goreng premium yang datang silih berganti dari pelanggan beliau. Namun, apa daya tak ada modal sepeserpun, sehingga permintaan yang sebenarnya menjadi kesempatan emas itu tidak bisa dipenuhi. Jangankan itu, untuk makan sehari-hari pun hanya bisa apa adanya dan seringkali kekurangan. Hingga dengan sangat terpaksa, pengajuan bantuan untuk menyambung hidup itu tersampaikan kepada kami.
“Saya dulu senang sekali bisa rutin sedekah di PPPA, saya rutin mengikuti kajian yang diadakan oleh PPPA. Bahkan, hingga saat ini ketika anak saya memutuskan mengambil jurusan psikologi, itu karena terinspirasi ingin menjadi konsultan seperti ustadz dari PPPA. Dulu, dia saya ajak ketika konsultasi ke ustadz,” cerita beliau saat kunjungan perdana kami, sambil mengenang momen beberapa tahun lampau saat masih bisa rutin bersedekah di PPPA.
Dunia seperti roda yang berputar. Seorang donatur bisa beralih peran menjadi penerima manfaat, atau sebaliknya. Namun, beruntungnya tidak lalai untuk berbagi dan berbuat baik saat beliau masih berkecukupan. Kini, bantuan dari berbagai arah yang tak terduga berdatangan saat beliau sedang membutuhkan.

Kisah panjang Ibu Suharni membawa rasa prihatin yang cukup mendalam dalam perjalanan kami usai dari kunjungan ke kediaman beliau di Kulonprogo. Apakah tidak berdosa jika kita membiarkan saudara kita harus menahan lapar berkepanjangan, terlebih ada orang sakit yang justru akan semakin tersiksa jika dibiarkan ikut menahan lapar ? Di tengah tuntutan kebutuhan yang menumpuk, dan tidak adanya alternatif pekerjaan di luar rumah yang bisa dilakukan karena akan menambah mudharat, maka berwirausaha menjadi solusi utama untuk membantu keberlangsungan hidup Bu Suharni dan Suami.

Tepat pada 21 September 2025 lalu, PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta akhirnya menyalurkan bantuan modal usaha untuk kemandirian ibu Suharni. Bawang Goreng Premium, adalah produk andalan beliau yang pernah dirintis dan diminati banyak pelanggan pada masanya. Nyatanya, produk bawang goreng beliau tak tergantikan. Permintaan itu terus berdatangan dari para pelanggan. Kini, Bu Suharni bisa berwirausaha kembali berkah bantuan perlengkapan usaha bawang goreng sekaligus uang tunai untuk modal usaha yang digulirkan dari PPPA Daarul Qur’an. Selain itu, desain label produk dengan brand “Bawang Goreng Premium Ibu Suharni” juga telah dibuatkan.

Syukur dan terima kasih tak terhingga beliau rapalkan. Pada akhirnya, mimpinya bisa terwujud melalui perantara PPPA Daarul Qur’an. Bantuan usaha untuk Ibu Suharni ini, minimal bisa membantu beliau untuk menyambung hidup, terutama sang suami yang sedang berjuang melawan stroke-nya.

Produk Bawang Goreng Ibu Suharni telah menemukan ruang di hati para pelanggan yang telah tersebar hingga lintas wilayah Jawa Tengah. Harapannya, usaha ini dapat menjadi embrio dari program pemberdayaan ekonomi, dimana tidak hanya memberdayakan seorang mustahik yang bertransformasi menjadi munfiq atau muzakki, melainkan juga berkontribusi pada penyerapan tenaga kerja dari masyarakat setempat. Sehingga tercipta ekosistem pemberdayaan wilayah Kulonprogo.

Sedekah Sekarang

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Need Help? Chat with us
Scroll to Top