“Ibu, aku nanti kalau sudah lulus sekolah, aku ingin jadi nyantri di Daarul Qur’an,” utas gadis kecil yang akrab disapa Nuri saat ia melihat informasi Pesantren Daarul Qur’an Tangerang tayang usai ceramah Ustadz Yusuf Mansur yang seringkali disetel di layar televisi setiap harinya.
Waktu terus berlalu, keinginan itu sepertinya sudah meluap tertindas oleh realita bahwa kesempatan nyantri itu tak pernah ia dapatkan. Dari tahun ke tahun, setiap pergantian jenjang pendidikan, rengekan itu tetap sama. “Ibu, Abah, apakah aku bisa nyantri sambil sekolah?” Tak ada penolakan. Tapi, pertanyaan itu terjawab dengan realita. Untuk mengobati kekecewaannya, sang ayah selalu mengajarkan mengaji kitab sisa-sisa nyantri sang Ibu di Pesantren Sidogiri yang masyhur di Jawa Timur. “Nur, belajar ilmu agama itu tidak harus dengan nyantri di pesantren. Buktinya abah bisa membaca kitab gundul padahal tidak pernah nyantri?”
Pada akhirnya, realita itu harus ia terima dengan penuh keikhlasan. Nuri memegang teguh kata-kata sang ayah, bahwa ia harus belajar agama dengan serius dimanapun ia berkesempatan menimba ilmu. Apa daya memaksakan sebuah niat mulia jika ternyata justru menimbulkan mudharat yang lebih besar. Perlahan, Nuri belajar untuk memahami peliknya kondisi perekonomian kedua orang tuanya dengan beban dan tanggungan yang masih berkepanjangan. Ada dua adiknya yang masih menunggu untuk mendapat hak pendidikan yang sama sepertinya.
Sebagai gantinya, ia memutuskan untuk bergabung dalam “Program Tahfizhul Qur’an” di tempatnya mengaji. TPQ Nurul Iman, namanya. Berkawan dengan anak-anak yang masih berusia 9-10 tahun tidak menjadi masalah serius baginya, meski saat itu, ia sudah menginjak kelas 3 SMP. Tak terasa 4 juz berhasil ia hafalkan dalam satu tahun masa pembelajaran. Namun, hafalannya sempat terhenti dalam 3 tahun. Bahkan, ia sama sekali tak ada niat untuk melanjutkan hafalannya hingga tuntas.
Namun, qadarullah, Allah mempertemukannya kembali dengan guru tahfizh yang mengajarnya di program sebelumnya. Namanya Ustadz Darussalam. “Hafalannya sudah sampai mana sekarang? Kenapa berhenti? Jika ada waktu untuk ikut program atau terkendala biaya, ayo mengaji ke rumah saya setiap akhir pekan. Tidak usah bayar.”
Ia sangat bersyukur dan terharu. Tawaran itu seperti hidayah yang membuka pintu hatinya. Seketika tanpa alasan panjang lebar, setiap akhir pekan ia mengayuh sepeda mini nya ke rumah beliau. Menyetorkan hasil ziyadah hafalannya selama sepekan, dan murojaah 1- 2 juz sekali duduk.
Tanpa terasa, rutinitas itu ia lakukan selama dua tahun hingga ia berhasil mencapai hafalan 23 juz Al-Qur’an. Di tengah semangatnya menghafal, ujian keimanan itu mulai melanda. Ia seperti perempuan tanpa masa depan. Tak ada kesempatan bekerja dan studi lanjut yang ia dapatkan. Kesehariannya hanya mengaji, membantu orang tua bekerja, menekuni hobi menulis dan membuka bimbingan belajar pada malam hari.
Sejatinya, ia ingin sekali melanjutkan studi. Tapi, sekali lagi jika melihat kondisi perekonomian yang tak memungkinkan, rasanya terlalu tega jika memaksakan kehendak untuk berkuliah. Pengajuan beasiswa dari pemerintah telah ia ajukan tapi nyatanya gagal ia dapatkan. Entah apa yang membuatnya selalu yakin setiap mendapat lemparan pertanyaan dari orang lain, “Iya, insya allah mau kuliah tahun depan,.”
“Nur, sabar dulu. Siapa tau dari keikhlasanmu menerima kondisi ini, dari keberkahan Al-Qur’an yang kamu hafalkan, kebermanfaatan ilmu yang kamu bagikan kepada anak-anak, ini menjadi wasilah terkabulnya segala keinginanmu yang mustahil menurut kita sebagai manusia,” Nuri berkaca mendengar nasehat ayahnya.
Maha suci Allah. Atas kuasa-Nya dalam sekali percobaan tes seleksi masuk perguruan tinggi (SBMPTN), Nuri berhasil diterima menjadi mahasiswa di Universitas Negeri Malang di jurusan akuntansi, sekaligus Beasiswa Tahfizh Al-Quran (BTQ) for Leaders dari PPPA Daarul Qur’an pada 2018. Atas izin Allah, dikabulkan ucapan yang ternyata menjadi doa di beberapa tahun silam itu. Kini, ia telah menjadi santri BTQ for Leaders PPPA Daarul Qur’an. Semangatnya semakin menyala. Target-target yang ditentukan dari PPPA Daarul Qur’an mengenai prestasi dan penghargaan, aktivitas sosial yang diikuti, dan beberapa poin monitoring bulanan lainnya, ternyata menjadi pemicu untuknya mencoba berbagai kesempatan selama menjadi mahasiswa sekaligus penerima beasiswa yang membawanya melanjutkan hafalan Al-Qur’annya.
Motto hidupnya menjadi manusia yang bermanfaat untuk sesama, membuatnya tergerak untuk terlibat dalam kegiatan yang berkaitan dengan sosial kemasyarakatan. Selama masa pendidikan, ia telah menginisiasi program kepenulisan ilmiah (academic writing) untuk mahasiswa, terlibat dalam proyek sosial melalui program kreativitas mahasiswa, tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan, Kampus Mengajar, hingga program Pejuang Muda dari pemerintah untuk diperbantukan di Kementerian Sosial Republik Indonesia.
Dedikasi dalam program Al-Qur’an telah ia mulai sejak mahasiswa. Ia terpilih dan bergabung menjadi pengajar Al-Qur’an untuk mahasiswa dalam program Tafaqquh Fii Diinil Islam (TDI) sebagai bagian dari mata kuliah Pendidikan Agama Islam (PAI). Usai dua tahun berjalan, kemudian ia direkomendasikan untuk masuk dalam tim ahli kurikulum dan pendamping pengajar program tersebut.
Usai menuntaskan sarjananya, Nuri berkhidmat sebagai staff keuangan dan HRD di PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta sejak Juni 2023 lalu. Keinginannya yang tertimbun sejak lama untuk menjadi tokoh yang terlibat langsung dalam misi sosial keagamaan dan kemasyarakatan akhirnya diijabah oleh Allah. Ia juga diperbantukan dalam pengelolaan program reguler dan Grha Tahfizh yang berfokus di syiar dan dakwah Al-Qur’an.
Kini, Nuri juga menjalankan amanah penyaluran program dan mengirimkan bantuan pada mitra atau mustahik yang membutuhkan. Selama 1,5 tahun Nuri mengabdi, sudah ada sekitar 30.000 penerima manfaat yang berhasil terbantu dan terlibat dalam program PPPA Daarul Qur’an di bidang pendidikan dan dakwah, sosial kemanusiaan, hingga kesehatan di Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, bahkan Hongkong.
Tak terasa 28 juz Al-Qur’an telah berhasil ia hafalkan sembari menempuh perkuliahan. Lalu, tepat pada bulan Oktober 2023 bersamaan dengan Hari Santri Nasional, ia telah mentasmi’kan hafalan Al-Qur’an-nya 30 juz dan menjadi peserta Wisuda Tahfizh Nasional (WTN) pada bulan Juni 2024. Pada momen yang nyaris bersamaan, tepat pada November 2023 lalu, ia juga mendapat predikat Guru Al-Qur’an kompeten Tahfizh Mutawasith (Level 5) dalam sertifikasi kompetensi Guru Al-Qur’an bersama LSP Daarul Qur’an di bawah lisensi BNSP RI.
Kini, Nuri juga terlibat dalam program upgrading kompetensi Guru Al-Qur’an di Kampung Qur’an Merapi yang menaungi sekitar 50 guru se-Kelurahan Glagaharjo dan sekitarnya dengan total 1.500-an santri di ujung Merapi. Bersama da’i Kampung Qur’an Merapi, Ia mendampingi para Guru Al-Qur’an meningkatkan kompetensi dan kualitas bacaan Al-Qur’annya.
Nuriah Muyassaroh, nama lengkapnya. Ia adalah salah satu dari sekian penerima Beasiswa Tahfizh Qur’an (BTQ) for Leaders angkatan 3 tahun 2018, yang kini telah mengabdikan diri kembali di Daarul Qur’an dan wilayah programnya. Upaya pembinaan dan pengembangan diri terus dilakukan guna menyiapkan kader-kader muda penjaga negeri yang mengawal program syiar dan dakwah Al-Qur’an di garda terdepan.
Program Beasiswa Tahfizh Qur’an (BTQ) for Leaders PPPA Daarul Qur’an mulai menuai hasilnya. Mereka para penerima beasiswa, telah tumbuh menjadi generasi yang berdedikasi dalam syiar dan dakwah Al-Qur’an, ikut serta menebar kebermanfaatan seluas-seluasnya. Pada akhirnya mereka kembali pada masyarakat yang telah berkontribusi besar dalam keberhasilan pendidikannya. Insya Allah, akan tumbuh menjadi pemimpin di tengah masyarakat yang berorientasi pada dampak yang lebih luas dan jangka panjang. Terimakasih untuk #SahabatDAQU yang telah mendukung dan berkontribusi di program berdampak luas ini, semoga amal kebaikan menjadi jariyah untuk kita semua. Aamiin.[]
