Magelang (2/6). PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta melakukan kunjungan perdana ke Gerakan Tuli Mengaji Magelang. Gerakan yang diinisiasi oleh Ustadz Beni dan Pak Bowo ini ternyata sudah berjalan sejak tahun 2020. Ustadz Beni merupakan salah satu Tim Pakar Penyusun Panduan Al-Qur’an Isyarat Kementerian Agama RI. Saat ini sudah ada sekitar 58 santri tuli dari berbagai kalangan, mulai dari usia belia, remaja, dewasa, hingga lansia. Tujuan kunjungan kali ini adalah sebagai bentuk tindak lanjut dari peresmian Gerakan Tuli Mengaji Indonesia oleh PPPA Daarul Qur’an pada 27 Maret 2024 lalu.
Tim PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta terus mengkaji untuk mendalami progres perkembangan gerakan, capaian santri, hingga metode pelaksanaan yang diterapkan di pelbagai wilayah. Termasuk juga sejarah pendirian, karakteristik santri, hingga kendala yang dialami selama pelaksanaan program, menjadi informasi yang sangat penting untuk menentukan tindak lanjut dan langkah sinergi yang tepat bersama Tuli Mengaji Magelang.
Tuli Mengaji Magelang dilaksanakan secara rutin setiap hari Ahad di Islamic Camp yang diberi nama Rumah Marhaba di Semawung, Sedayu, Magelang. Dalam pembelajarannya, Tuli Mengaji Magelang berfokus pada belajar Al-Qur’an isyarat dan menulis huruf Hijaiyah. Secara keseluruhan, santri masih dalam tahap iqra’ yang berorientasi pada pembelajaran huruf Hijaiyah dan kalimat-kalimat pendek. Selain Ustadz Beni dan Pak Bowo, ada sekitar 3 orang lain yang juga berperan sebagai pengajar. Hal ini sebagai bentuk regenerasi pengajar Al-Qur’an isyarat. Selain belajar Al-Qur’an, Ustadz Beni dan Pak Bowo juga berencana mengadakan kelas keterampilan, seperti menjahit, dan menggambar.
Dalam pelaksanaan program, Tuli Mengaji Magelang telah berkomitmen menjadi gerakan yang mandiri. Secara keseluruhan, operasional dan pengembangan program berasal dari kas yang dihimpun dari iuran sukarela santri setiap kehadiran mengaji di hari Ahad. Kas ini yang kemudian dikelola untuk pengadaan event, konsumsi, seragam, dan lainnya. Mengingat hingga saat ini belum ada lembaga yang menaungi dan memberikan support dana operasional untuk pengembangan program, sehingga kemandirian menjadi strategi untuk menopang keberlanjutan program.
Ustadz Beni dan Pak Bowo selaku inisiator Gerakan Tuli Mengaji Magelang mengaku, bahwa beliau juga masih terus meningkatkan kapasitas diri, mengembangkan kompetensi, sehingga dapat memberikan pengajaran terbaik kepada para santri binaannya. Pak Bowo dan Ustadz Beni pun menerima dengan tangan terbuka jika ada penawaran sinergi dan kolaborasi. Terlebih semenjak dirilisnya Gerakan Tuli Mengaji Indonesia di Yogyakarta pada 31 Maret 2024 lalu yang dihadiri langsung oleh Ketua Tim Penyusun dan Pakar Al-Qur’an Isyarat LPMQ Kemenag RI, ini menjadi berita membahagiakan sekaligus kesempatan bagus karena akan terus terfasilitasi dalam meningkatkan kompetensi pengajaran Al-Qur’an isyarat.
Maulana Kurnia Putra, selaku Kepala Perwakilan PPPA Daarul Qur’an Yogyakarta, menyampaikan dalam sambutannya pasca kegiatan pembelajaran usai, bahwa Gerakan Tuli Mengaji Indonesia akan menjadi wadah yang menaungi berbagai gerakan Tuli Mengaji di pelbagai wilayah. Tujuannya yaitu mengembangkan pengajaran Al-Qur’an isyarat sesuai panduan nasional dari KEMENAG RI. Selain itu, hal ini juga dapat menumbuhkan motivasi dan semangat mereka, bahwa mereka tidak sedang berjuang dan bergerak sendiri dalam mensyiarkan Al-Qur’an Isyarat. Melainkan, mereka juga mendapat dukungan dari pemerintah, lembaga, maupun masyarakat. Studi banding program juga akan dilakukan antar wilayah, sehingga dapat menambahkan variasi program yang dapat diadopsi di wilayah yang bersangkutan.
